Minggu, 14 Mei 2017

Aku dan Dia

Aku memiliki sebuah hubungan dengan seorang wanita yang telah terjalin relatif cukup lama. Kami menjalin hubungan jarak jauh,atau bisa dibahasa inggriskan dengan kata "LDR",Long Distance Relationship. Tapi kami memiliki dasar kepercayaan yang tinggi untuk bisa menjaga hubungan ini sampai kearah yang kami tuju bersama.
Hari,bulan,tahun kami melalui itu semua dengan komunikasi tanpa henti. Kalau dihitung-hitung entah berapa anggaran yang digelontorkan untuk kegiatan aktif seperti ini. Yang anehnya,kami berdua cendrung tidak pernah merasa bosan.
Terkadang secara pribadi aku merasakan hal ini diluar kendali,sebab rata-rata bagi setiap pasangan dalam melakukan komunikasi pasti ada jeda. Entah lagi bekerja,akitifitas harian dirumah atau apalah. Tetapi aku dan dia cendrung tidak ada hambatan sama sekali. Kami punya pekerjaan serta keseharian yang terbilang cukup sibuk,tetapi untuk membalas suatu pesan kami relatif cepat untuk membalasnya aneh kan?? hehehe...💃
Aku sudah pernah membahas masalah ini dengannya,dia hanya merasa heran dan cendrung tidak menganggap ini suatu hal serius. Bahkan dia banyak kembali bertanya kepadaku. Semakin banyak aku bertanya dengannya,maka dia pun semakin banyak juga kembali bertanya kepadaku.😪

Sabtu, 13 Mei 2017

Nenek Pendorong Gerobak

Ini adalah cerita perdanaku yang pertama,cukup panjang sehingga cerita ini berstatuskan perdana hehe.
Dihari-hari tertentu aku melihat seorang nenek yang memiliki usia diatas 50an tahun keatas sedang mendorong sebuah gerobak. Sepintas terlihat,isi dari gerobak tersebut hanya berisikan plastik2an dan beberapa buah kayu lapuk. Sang nenek terlihat sangat lelah,karena faktor usia yang memang tidak menganjurkannya lagi untuk bekerja dengan keras.
Aku merasa iba dan penuh tanda tanya. Kemanakah anak sang nenek berada? Bagaimana latarbelakang kehidupan sang nenek sebelumnya. Apakah anak-anaknya memang tidak ada,atau ada tetapi sudah meninggal??
Tak jarang aku selalu melihatnya duduk dengan wajah yang tampak kelelahan. Pernah suatu ketika,aku sengaja mendekati diri sang nenek. Aku memberikan selembaran uang kertasku yang ada di kantong celana sebelah kiriku. Untuk nominalnya maaf aku tidak bisa menyebutkan,karena itu termasuk hal yang privasi. Nenek itu menerimanya dengan penuh senyuman,sambil mengucapkan "Semoga anak selalu dalam keadaan sehat dan murah rezekinya",itulah yang aku dengar dari ucapan sang nenek. Dengan masih penuh penasaran dimanakah anak sang nenek ini berada??
Sang nenek satu dari sekian ribu nenek terlantar yang ada di Indonesia. Mereka adalah jompo yang memang untuk kelanjutan hidupnya merupakan tanggung jawab kita bersama. Saya hanya orang biasa yang memang risih melihat penelantaran yang seperti ini. Belum lagi masalah sosial yang sering kita jumpai disetiap lampu merah yaitu "Pengemis".
Pengemis memiliki banyak latarbelakang kehidupan yang berbeda. Ada yang memang sengaja menjadi pengemis,bahkan ada yang menganggap ini suatu profesi. Saya berani mengatakan bahwa pengemis lebih tinggi derajatnya dari pada mereka yang menjadi bandar narkoba,pejabat korupsi,pencuri,begal dan sebagainya. Tetapi sang nenek tetap lebih tinggi derajatnya dari pada pengemis. Sang nenek mau bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa harus meminta-minta ketika kita memberi sang nenek dengan rendah hati menerima pemberian dari kita. Saya sangat yakin sang nenek tidak mau dianggap berhak untuk dikasihani,tetapi kita yang melihatnya pasti merasa sedih.
Sang nenek telah menjadi suatu inspirasi bagiku,yaitu inpirasi tentang kerja keras. Dimana umur kalau badan masih sehat tidak menghambat untuk melakukan segala aktifitas sehari-hari.